[Berani Cerita #24] Jemputan

Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Air matanya begitu indah: bulir-bulir serupa mutiara. Seandainya bisa kupunguti dan kuuntai menjadi kalung, lalu kusematkan di lehernya yang jenjang, tentu akan menjadi hadiah terindah. Aroma semerbak harum tubuhnya mengingatkanku akan harumnya tanah setelah disiram hujan. Menyegarkan dan membuat candu.

“Akhirnya, istriku… Akhirnya…” kukecup kening dan kuremas jemarinya.

Continue reading

[Berani Cerita #14] Tambara

“Kurang ajar! teriakan Mak Isni membuatku terlonjak ketika tanganku sibuk menggumuli cucian di belakang rumah.

Mak Isni tergesa-gesa menjangkau sapu di dekat dapur dan bergegas kembali ke depan.

“Ada apa, Mak?”

“Itu! Kucingnya Pakde Narto sebelah! Bisa-bisanya kucing hitam bulukan itu mencuri lagi ikan goreng! Coba saja kalau kulihat lagi!”

“Sudahlah, Mak! Jangan gara-gara kucing, Mak dan tetangga ribut!”

Continue reading

[Berani Cerita #12] Sepatu dari Ibu

Aku menoleh ketika pintu depan berderit. Kulihat wajah letih ibu muncul di baliknya. Lantas, aku bergegas ke dapur, menyeduh teh dari termos tua ke gelas berisi gula yang telah kusiapkan semenjak tadi.

“Sudah makan, Nak?” Ringkih sehabis pulang mencuci ke rumah tetangga tetap tak mengurangi perhatiannya kepadaku.

“Belum, Bu. Nunggu ibu pulang, supaya kita makan sama-sama…” seraya kusodorkan teh hangat itu kepadanya.

Continue reading

[BeraniCerita #04] I Love You

“Kamu sudah siap ke sekolah yang baru?”

“Iya!”

“Jangan takut dan ragu ya!”

“Ok, bu!”

***

“Bagaimana di sekolah tadi?”

“Mereka tidak mau bermain denganku, Bu!”

“Kenapa?”

“Mereka bilang aku tidak sama seperti mereka!”

“Sudahlah, tak usah menangis lagi ya nak! Kamu memang tidak sama, kamu berbeda. Percayalah pada ibu…”

*** Continue reading

[BeraniCerita #01] Rena

Angin dingin menerpa, menjilat dan membelai wajah Rena yang tertutup sebagian rambutnya. Entah berapa lama ia berjalan, tampaklah rumah tersebut, kokoh namun telah pudar dimakan waktu. Sebelumnya, setiap pulang sekolah, ia selalu berputar untuk dapat melewati rumah ini, memastikan tidak ada yang meninggali. Terletak di dekat pinggiran hutan dan hanya dapat dicapai melalui sebuah jalan setapak yang panjang dan berliku. Rena memandanginya lekat-lekat sambil menggigit bibir, dadanya bergemuruh kencang.


Udara semakin menggigit, Rena tak tahan berlama-lama di luar dan mendekati salah satu jendela. Ia mengambil batu dan melemparkannya ke jendela. Ia bahkan tak menggubris luka di pipinya akibat tergores sekeping pecahan kaca.
Dengan hati-hati ia mengutak-atik kunci dan berhasil! Rena membuka jendela dan menyelinap masuk sepelan bisikan.

Ruangan itu pengap dan berdebu. Bau tua demikian pekat menusuk hidung. Rena terbatuk-batuk dan mengibaskan tangan, menyingkirkan sarang laba-laba yang menghalangi jalannya.

Continue reading

[Cerita Mini] Kafe

Tepat pukul 12 siang, aku tiba di kafe, membuka pintu, sembari melihat-lihat sekeliling, mencoba mencari seseorang. Ia melambai padaku dari sudut kafe, tepat di samping jendela. Begitu tampan dengan kemeja biru laut.

Jantungku berdegup kencang. Belum pernah aku janjian makan siang dengan pria, hanya berdua!
Continue reading

PromptChallenge Quiz: Bayi Rim

“Mbak Rim!”

“Iya, kenapa Gita?”

“Ini…bayinya…”

“Kenapa bayinya, Gita?”

“Udah gak nafas, mbak!”

Continue reading

[Cerita Mini] Mirabelle

Mirabelle. Kami bertemu setiap hari di studioku. Awalnya aku tak pernah mengira ia bisa tampak secantik ini dimataku. Namun ternyata benar kata orang, jika setiap hari bertemu, perasaan seseorang bisa berubah. Ia berumur 20-an akhir, tubuhnya kecil dan langsing. Mata bulat berwarna coklat cerah beralis tebal. Hidung ramping dan bibir penuh. Rambutnya hitam lurus tergerai.

Kami tak pernah saling berkenalan. Entah aku yang malu ataukah ia. Tiap aku mencuri-curi pandang ke arahnya, ia pun ternyata sedang menatapku pula.

Continue reading

[FF-PROMPT#3] SLOGAN

credit

Telpon berdering. Ah, sekarang sedang ramai-ramainya orang. Rasanya tanganku tak cukup hanya dua. Aku melihat rekan-rekanku pun sedang sibuk bekerja. Mau tak mau aku harus mengangkat.

“Halo?”

“Oh, iya, benar pak!”

“Pilihannya yang mana?”

“Berapa, pak?”

“Dimana?”

“Ok, baiklah!”
Continue reading

Protected: Day #3 J50K

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Luana

Permalink Enter your password to view comments.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 509 other followers

Archives